favicon
Mari Dukung Pelestarian Sejarah Gresik
Donasi

Kebangkitan Tradisi Megalitik Lereng Arjuno: Jejak Kebingungan Spiritual Menjelang Runtuhnya Majapahit

   
Kebangkitan Tradisi Megalitik Lereng Arjuno: Jejak Kebingungan Spiritual Menjelang Runtuhnya Majapahit

Kebangkitan Tradisi Megalitik Lereng Arjuno: Jejak Kebingungan Spiritual Menjelang Runtuhnya Majapahit

 


Menjelang keruntuhan Majapahit pada akhir abad ke-15 M, masyarakat Jawa mengalami guncangan yang tidak hanya bersifat politik, tetapi juga spiritual. Konflik perebutan tahta, perpecahan antar-kerajaan bawahan, hingga gelombang Islamisasi yang semakin kuat, membuat kehidupan di keraton kehilangan keseimbangan. Di tengah intrik kekuasaan itu, banyak orang Jawa mencari jalan lain: lari ke gunung sebagai simbol pelarian sekaligus pencarian kedamaian.

Gunung Sebagai Pusat Spiritualitas

Dalam pandangan kosmologi Jawa kuno, gunung adalah poros dunia (axis mundi) yang menghubungkan bumi dengan langit. Lereng Gunung Arjuno, sebagaimana gunung-gunung lain di Jawa, menjadi tempat bertapa, bermeditasi, dan melakukan ritual leluhur. Tradisi megalitik yang diwarisi sejak masa prasejarah kembali dihidupkan sebagai bentuk kembali ke akar kesucian, ketika dunia kerajaan dianggap sudah terlalu profan dan korup.

Kebingungan Spiritual Majapahit

Runtuhnya Majapahit tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer lawan atau intrik politik internal, melainkan juga oleh krisis batin masyarakatnya. Nilai-nilai spiritual Hindu-Buddha yang dulu menjadi fondasi kejayaan Majapahit memudar, tergantikan oleh perebutan harta dan kuasa. Dalam kondisi demikian, gunung menjadi pilihan alternatif: tempat hening, jauh dari hiruk pikuk istana, tempat manusia bisa kembali menyatu dengan alam dan leluhurnya.

Tradisi Megalitik Sebagai Refleksi

Kebangkitan kembali tradisi megalitik di lereng Gunung Arjuno saat ini seolah menghadirkan gema masa lalu. Batu-batu tegak, sesaji, dan ritual yang dilakukan bukan sekadar romantisme tradisi kuno, melainkan juga simbol pencarian makna spiritual di tengah dunia modern yang sering kali tidak kalah bising dibanding keraton Majapahit dulu.

Penutup

Jika ditarik ke belakang, kebangkitan tradisi megalitik Arjuno bisa dibaca sebagai cermin sejarah Jawa: ketika kekacauan dan perebutan kekuasaan melanda, manusia selalu mencari jalan pulang menuju kesucian. Gunung menjadi ruang penyembuhan batin, tempat di mana kebingungan spiritual menemukan jawabannya dalam hening dan kesederhanaan.

Last update
Add Comment