Teknologi Hati Sunan Prapen dan Google Maps


Syahdan, tersebutlah sebuah fragmen cerita ketika Sunan Prapen akan menginisiasi Jaka Tingkir sebagai Raja Pajang, beliau memberikan sebuah notifikasi dan informasi masa depan penting kepada Jaka Tingkir, Sultan Hadiwijaya, bahwa kelak singgasananya akan digantikan oleh Senopati atau Sutawijaya. Anak angkatnya sendiri.

Informasi bersifat kaysaf dari Sunan Prapen begitu terperinci. Bahkan sebelum bertemu dengan Ki Ageng Pemanahan, ayah dari Senopati.

Konfirmasi ramalan tersebut semakin menguat ketika Sunan Prapen bertatap muka langsung dengan Ki Ageng Pemanahan.

Kejernihan hati bisa memberikan sebuah releksi dan estimasi dari kejadian yang akan datang. 

Teknologi hati ini, bisa terjadi, karena memang metodologi (tirakat) yang dilakukan oleh Sunan Prapen memang sudah terpenuhi syarat dan rukunnya. Ilmu ini sudah diwarisi dari kakeknya Prabu Satmata. Prabu Satmata dari Ayahnya Syaikh Maulana Ishaq qs yang syahdan juga ketika dalam gua yang gelap gulita berpendar bercahaya tubuhnya manakala melakukan zikir kepada-Nya.

26 tahun sebelum kejatuhan Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya), visi Sunan Prapen sudah melihatnya.
Teknologi hati ini sudah ada sejak zaman Nabi Adam AS. Manusia memang sudah dibekali alat dan tools untuk bisa mengaktivasi kemampuan dan skill ini.

Jika visionary skills ini dulu dianggap sebagai sebuah anugrah dan karunia luar biasa, maka hal seperti itu, jika kita cukup tech savvy (penggemar teknologi), akan menjadi logis jika kita analogikan dengan teknologi Google Maps yang sudah seringkali kita gunakan sekarang.

Ya, Google Maps mampu memprediksi durasi, jarak tempuh dan estimasi kita tiba pada sebuah lokasi dan destinasi perjalanan kita. Apa sebab google maps bisa memiliki 'kekeramatan' seperti itu? Tak lain tak bukan karena ianya menggunakan satelit.

Satelit google yang membantu terjadinya teknologi forecasting ini. Kembali kepada kemampuan para wali yang memiliki anugrah forecasting ini, satelit para wali ini adalah ruh. Ruh Prabu Satmata dan silsilahnya yang tetap tersambung sedemikian rupa sampai ke Nabi Muhammad SAW, sang bulan purnama. Bulan adalah satelit bumi.

Maka ketika anugrah tersebut aktf, dengan sendirinya segala informasi dapat tersampaikan secara jelas dan gamblang. Segamblang ketika kita dipandu Google Maps untuk sampai pada tujuan.



Teknologi batin ini, sangat berguna bukan hanya untuk pribadi yang memilikinya namun memang semestinya di warisi oleh umat Nabi Muhammad SAW melalui para ulamanya dan umatnya.
Karena ilmu zahir Nabi SAW tidak kurang bisa dipelajari siapa saja, namun ilmu batin ini yang nampaknya kurang apresiasi dan proporsi dari para penganutnya. Ilmu batin inilah yang menjadi nyawa dan ruh daripada agama ini.

Yang dengannya akhlak mulia ketika di fitnah dan di zalimi bisa tersenyum tanpa membenci pelakunya. Ilmu akhlakul karimah yang bersumber dari kelembutan dan ketentraman hati akibat olah zikir yang istiqamah dan ikhlas tanpa ekspektasi apa-apa.

Lahumul fatihah.

 Al Faqir ilallah
 R. Rofik

Comments

Popular posts from this blog

Isi Kitab Surowiti : Wejangan Spiritual Sunan Kalijaga

Sekilas Riwayat Kyai Toemenggoeng Poesponegoro

Gresik: Sebuah Catatan Perjalanan Sejarah Islam Nusantara